Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Tuesday, May 10, 2011

ASKEP IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA . Asma dan Kehamilan: Asma yang terkendali dengan baik tidak memiliki efek yang berarti pada wanita yang hamil, melahirkan ataupun menyusui. Asma mungkin membaik, memburuk atau tetap tidak berubah selama masa hamil, tetapi pada kebanyakan wanita gejala-gejalanya cenderung meningkat selama tiga bulan terakhir dari masa kehamilan. Dengan bertumbuhnya bayi dan membesarnya rahim, sebagian wanita mungkin mengalami semakin sering kehabisan nafas. Tetapi ibu-ibu yang tidak menderita asmapun mengalami hal tersebut karena gerakan diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas. Adalah penting untuk memiliki sebuah rancang tindak asma dan ini harus ditinjau kembali secara teratur selama masa kehamilan. Dokter spesialis kebidanan perlu diberitahu bila si pasien meminum obat cortisone. Bagi wanita yang mengalami serangan asma yang dahsyat atau tidak stabil meskipun sudah diadakan pengendalian asma yang terbaik, rancang tindak mereka harus meliputi apa yang harus dilakukan ketika melahirkan, termasuk pilihan-pilihan jika dilakukan pembiusan. Hal ini harus diatur dengan konsultasi antara sang ibu, dokter kebidanan dan dokter ahli. Asma yang tidak dikendalikan ada hubungannya dengan sedikit meningkatnya kelahiran bayi yang berat badannya rendah dan terjadinya kelahiran sebelum waktunya. EFEK ASMA PADA KEHAMILAN: Asma apabila berat dapat mempengaruhi hasil kehamilan secara bermakna.dalam sebagian besar penelitian, dijumpai peningkatan insiden preeklamsia, persalinan preterm, bayi berat lahir rendah, dan mortalitas perinatal. Walaupun belum terbukti secara logika asma yang terkontrol baik akan member hasil yang lebih baik (Schatz, 1999). PENGERTIAN: Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi, yang di dasari oleh hiperaktivitas bronkus, obstruksi jalan nafas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak). (arief mansjoer, 1999) ETIOLOGI: • Faktor Ekstrinsik Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang. • Faktor Intrinsik Infeksi : - virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV) - bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus - jamur, misalnya aspergillus • cuaca : perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara emosional : takut, cemas dan tegang aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari. PATOFISIOLOGI: Asma adalah suatu gangguan peradangan kronik pada jalan nafas dengan komponen herediter mayor. Menurut Lemanske dan Busse (1997), peningkatan responsivitas dan peradangan jalan nafas berkaitan dengan kromosom 11q13 (reseptor IgE afinitas –kuat), 5q (kelompok gen sitokin), dan 14q (reseptor antigen sel T). juga harus terdapat pemicu di lingkungan bagi orang yang rentan. Tanda utama adalah obstruksi reversible jalan napas akibat kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mucus, dan edema mukosa. terjadi peradangan jalan napas dan responsivitas terhadap sejumlah rangsangan, antara lain iritan, infeksi virus, aspirin, udara dingin dan olah raga. Sel mast dan eosinovil terangsang oleh factor sel induk, sitokin, dan kinase (Holgate, 1997). Aktifasi sel mast menyebabkan bronkokonstiksi akibat pembebasan histamine, prostaglandin D2, dan leukontrien. Karena prostaglandin seri F dan ergonovin menyebabkan eksaserbasi asma, kedua obat yang sering di gunakan di bidang obstertri ini bias mungkin dihindari. Secara klinis asma merupakan suatu spectrum penyakit yang luas yang berkisar dari mengi sampai bronkokonstriksi berat yang dapat menyebabkan gagal napas, hipoksemi berat, dan kematian, akibat fungsional dari brokospasme akut adalah obstruksi jalan napas dan berkurangnya aliran udara. Usaha bernafas meningkat secara progresif dan pasien mengeluh dada sesak, mengi, atau kehabisan napas. Perubahan oksigenasi selanjutnya merupakan cerminan dari ketidaksesuaian ventilasi perfusi karena penyempitan jalan nafas tidak merata. ( Cunningham, F. Gary dkk. 2005. Obstetri Williams). MANIFESTASI KLINIS:  Wheezing.  Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan.  Pernapasan cuping hidung.  batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit.  Diaphoresis.  Sianosis.  Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan.  kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadaran.  tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara. STADIUM ASMA: Pada penyakit ringan, hipoksia pada awalnya di kompensasi baik oleh hiperventilasi, seperti tercermin oleh normalnya tekanan oksigen arteri dan berkurangnya tekanan karbondiaoksida sehingga terjadi alkalosis respiratorik. Seiring dengan bertambah parahnya penyempitan jalan napas, gangguan ventilasi perfusi meningkat sehingga terjadi hipoksemia arteri. Pada obstruksi yang parah ventilasi sedemikian terganggu karena kelelahan otot pernapasan sehingga terjadi retensi CO2 awal. Karena adanya hiperventilasi, hal ini mungkin di jumpai pada awal penyakit karena tekanan CO2 arteri kembali ke kisaran normal. Akhirnya, pada obstruksi yang sudah kritis, terjadi gagal napas yang di tandai dengan hiperkapnia dan asidemia. Walaupun perubahan-perubahan ini umumnya reversible dan di toleransi baik pada individu sehat yang tidak hamil, stadium-stadium awal asma mungkin sudah berbahaya bagi wanita hamil dan janinnya. Kapasitas residu fungsional yang lebih kecil serta meningkatnya pirau menyebabkan hipoksia dan hipoksemia lebih mudah terjadi. KOMPLIKASI: 1.Status asmatikus 2.Bronkhitis kronik bronkhiolus. 3. Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender 4.Pneumothoraks Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ioni dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi 5. Kematian PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK: • Riwayat penyakit atau pemeriksaan fisik. • Foto rontgen dada. • Pemeriksaan fungsi paru : menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum. • Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST). • Analisa gas darah – pada awalnya pH meningkat, PaCO2 dan PaO2 turun (alkalosis respiratori ringan akibat hiperventilasi ); kemudian penurunan pH, penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 (asidosis respiratorik) PENATALAKSANAAN: Pengalaman bertahun-tahun dengan sejumlah besar wanita hamil yang menggunakan obatobatan asma seperti Ventolin dan Bricanyl telah menunjukkan bahwa obat-obatan ini aman baik bagi sang ibu maupun si bayi. Obat-obatan lainnya termasuk tablet-tablet Atrovent, Intal Forte, Becotide, Tilade, Intal Forte, Becloforte, Pulmicort, dan Prednisolone juga telah digunakan dan tidak menyebabkan peningkatan angka kelahiran bayi cacat. Obat-obat golongan Theophyllines (Brondecon, Nuelin dan Theodur) tidak lagi sering digunakan sekarang dalam pengendalian asma, tetapi bila digunakan ketika masa hamil, kadar darah harus diperiksa secara teratur oleh dokter Anda, karena hal tersebut dapat berubah-ubah selama masa hamil. DAFTAR PUSTAKA: 1. Betz L. Cecily. Buku Saku Keperawatan Pediatri. 2. Corwin, J. Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi. 3. Cunningham, F. Gary dkk. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. EGC: Jakarta. 4. http://yuwielueninet.wordpress.com/2009/01/09/kehamilan-penyakit-asma. 5. Dina Dr, Penatalaksanaan Penyakit Alergi. 6. Mansjoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran. 1999. Jakarta: Media Aesculapius. KONSEP KEPERAWATAN • PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Riwayat asthma atau alergi dan serangan asthma yang lalu, alergi dan masalah pernapasan 2. Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan. 3. Riwayat psikososial: factor pencetus, stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya. 4. Pemeriksaan fisik:  Pernapasan.  Napas pendek.  Wheezing.  Takipnea Batuk kering.  Takikardia.  Kelelahan.  Ansietas.  Sulit tidur.  Intolerans aktifitas.  Integumen.  Sianosis.  Psikososial.  Kaji status hidrasi - • DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa. 2. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan. 3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI. 4. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapasan dan menurunnya intake oral. 5. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan. 6. Perubahan proses keluarga b.d. kondisi kronik. 7. Kurang pengetahuan b.d. proses penyakit dan pengobatan. INTERVENSI KEPERAWATAN Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa. Tujuan : - menunjukkan perbaikan pertukaran gas ditandai dengan :  tidak ada wheezing dan retraksi.  batuk menurun.  warna kulit kemerahan Intervensi: a. Kaji RR, auskultasi bunyi napas. b. Beri posisi high fowler atau semi-fowler. c. Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif. d. Lakukan suction jika perlu. e. Lakukan suction jika perlu. f. Berikan oksigen sesuai program. g. Monitor peningkatn pengeluaran sputum. h. Berikan bronchodilator sesuai indikasi. Rasional : a. sebagai sumber data adanya perubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan. b. mengembangkan ekspansi paru. c. membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenasi. d. membantu mengeluarkan secret yang tidak dapat dikeluarkan. e. membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru. f. memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi. g. sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru. h. otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan. Tujuan : - menunjukkan penurunan kelelahan ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan peningkatan kemampuan dalam beraktifitas. Intervensi : 1. Kaji tanda – tanda hipoksia / hypercapnea ; kelelahan, agitasi, peningkatan HR, peningkatan RR 2. Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. 3. Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam. 4. Ajarkan teknik manajemen stress. Rasional : 1. deteksi dini untuk mencegah hipoksia dapat mencegah keletihan lebih lanjut. 2. Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan. 3. Menurunkan ketakutan dan kecemasan istirahat cukup dan tidur cukup. 4. menurunkan kelelahan dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi. 5. Bronkospasme mungkin disebabkan oleh emosional dan stress Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI. Tujuan : - menunjukkan penurunan distress GI ditandai dengan: Penurunan nausea dan vomiting,adanya perbaikan nutrisi / intake Intervensi: 1. Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari dengan makanan yang disukainya. 2. Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi. Rasional : 1. makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan. Makanan yang disukai. 2. Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral. Tujuan : - mempertahankan hidrasi yang adekuat ditandai dengan turgor kulit elastis,membrane mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan. Intervensi: 1. Kaji turgor kulit, monitor urine, output tiap 4 jam. 2. Pertahankan terapi parenteral sesuai indikasi dan monitor kelebihan cairan. Rasional : 1. untuk mengetahui tingkat hidrasi dan kebutuhan cairannya. 2. anak membutuhkan cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi dan keseimbangan asam basa untuk mencegah syok. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan. Tujuan : - Kecemasan menurun, ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya Intervensi: 1. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing. 2. Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi. Rasional : 1. pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan. 2. menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya.

/ On : 12:41 PM/ Thank you for visiting my small blog here.
ASKEP IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN: ASMA .
Asma dan Kehamilan:
Asma yang terkendali dengan baik tidak memiliki efek yang berarti pada wanita yang hamil, melahirkan ataupun menyusui. Asma mungkin membaik, memburuk atau tetap tidak berubah selama masa hamil, tetapi pada kebanyakan wanita gejala-gejalanya cenderung meningkat selama tiga bulan terakhir dari masa kehamilan. Dengan bertumbuhnya bayi dan membesarnya rahim, sebagian wanita mungkin mengalami semakin sering kehabisan nafas. Tetapi ibu-ibu yang tidak menderita asmapun mengalami hal tersebut karena gerakan diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas. Adalah penting untuk memiliki sebuah rancang tindak asma dan ini harus ditinjau kembali secara teratur selama masa kehamilan. Dokter spesialis kebidanan perlu diberitahu bila si pasien meminum obat cortisone. Bagi wanita yang mengalami serangan asma yang dahsyat atau tidak stabil meskipun sudah diadakan pengendalian asma yang terbaik, rancang tindak mereka harus meliputi apa yang harus dilakukan ketika melahirkan, termasuk pilihan-pilihan jika dilakukan pembiusan. Hal ini harus diatur dengan konsultasi antara sang ibu, dokter kebidanan dan dokter ahli. Asma yang tidak dikendalikan ada hubungannya dengan sedikit meningkatnya kelahiran bayi yang berat badannya rendah dan terjadinya kelahiran sebelum waktunya.
EFEK ASMA PADA KEHAMILAN:
Asma apabila berat dapat mempengaruhi hasil kehamilan secara bermakna.dalam sebagian besar penelitian, dijumpai peningkatan insiden preeklamsia, persalinan preterm, bayi berat lahir rendah, dan mortalitas perinatal. Walaupun belum terbukti secara logika asma yang terkontrol baik akan member hasil yang lebih baik
(Schatz, 1999).


PENGERTIAN:
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi, yang di dasari oleh hiperaktivitas bronkus, obstruksi jalan nafas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak).
(arief mansjoer, 1999)
ETIOLOGI:
• Faktor Ekstrinsik
Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang.

• Faktor Intrinsik
Infeksi :
- virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)
- bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus
- jamur, misalnya aspergillus
• cuaca :
perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan
iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara
emosional : takut, cemas dan tegang
aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari.



PATOFISIOLOGI:
Asma adalah suatu gangguan peradangan kronik pada jalan nafas dengan komponen herediter mayor. Menurut Lemanske dan Busse (1997), peningkatan responsivitas dan peradangan jalan nafas berkaitan dengan kromosom 11q13 (reseptor IgE afinitas –kuat), 5q (kelompok gen sitokin), dan 14q (reseptor antigen sel T). juga harus terdapat pemicu di lingkungan bagi orang yang rentan. Tanda utama adalah obstruksi reversible jalan napas akibat kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mucus, dan edema mukosa. terjadi peradangan jalan napas dan responsivitas terhadap sejumlah rangsangan, antara lain iritan, infeksi virus, aspirin, udara dingin dan olah raga. Sel mast dan eosinovil terangsang oleh factor sel induk, sitokin, dan kinase (Holgate, 1997). Aktifasi sel mast menyebabkan bronkokonstiksi akibat pembebasan histamine, prostaglandin D2, dan leukontrien. Karena prostaglandin seri F dan ergonovin menyebabkan eksaserbasi asma, kedua obat yang sering di gunakan di bidang obstertri ini bias mungkin dihindari.
Secara klinis asma merupakan suatu spectrum penyakit yang luas yang berkisar dari mengi sampai bronkokonstriksi berat yang dapat menyebabkan gagal napas, hipoksemi berat, dan kematian, akibat fungsional dari brokospasme akut adalah obstruksi jalan napas dan berkurangnya aliran udara. Usaha bernafas meningkat secara progresif dan pasien mengeluh dada sesak, mengi, atau kehabisan napas. Perubahan oksigenasi selanjutnya merupakan cerminan dari ketidaksesuaian ventilasi perfusi karena penyempitan jalan nafas tidak merata.
( Cunningham, F. Gary dkk. 2005. Obstetri Williams).

MANIFESTASI KLINIS:
 Wheezing.
 Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan.
 Pernapasan cuping hidung.
 batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit.
 Diaphoresis.
 Sianosis.
 Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan.
 kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadaran.
 tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
STADIUM ASMA:
Pada penyakit ringan, hipoksia pada awalnya di kompensasi baik oleh hiperventilasi, seperti tercermin oleh normalnya tekanan oksigen arteri dan berkurangnya tekanan karbondiaoksida sehingga terjadi alkalosis respiratorik. Seiring dengan bertambah parahnya penyempitan jalan napas, gangguan ventilasi perfusi meningkat sehingga terjadi hipoksemia arteri. Pada obstruksi yang parah ventilasi sedemikian terganggu karena kelelahan otot pernapasan sehingga terjadi retensi CO2 awal. Karena adanya hiperventilasi, hal ini mungkin di jumpai pada awal penyakit karena tekanan CO2 arteri kembali ke kisaran normal. Akhirnya, pada obstruksi yang sudah kritis, terjadi gagal napas yang di tandai dengan hiperkapnia dan asidemia.
Walaupun perubahan-perubahan ini umumnya reversible dan di toleransi baik pada individu sehat yang tidak hamil, stadium-stadium awal asma mungkin sudah berbahaya bagi wanita hamil dan janinnya. Kapasitas residu fungsional yang lebih kecil serta meningkatnya pirau menyebabkan hipoksia dan hipoksemia lebih mudah terjadi.
KOMPLIKASI:
1.Status asmatikus
2.Bronkhitis kronik bronkhiolus.
3. Ateletaksis : lobari segmental karena obstruksi bronchus oleh lender
4.Pneumothoraks
Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asam tidak sanggup memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan m ukus yang kental. Situasi ioni dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya teklanan untuk melakukan ventilasi
5. Kematian
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK:
• Riwayat penyakit atau pemeriksaan fisik.
• Foto rontgen dada.
• Pemeriksaan fungsi paru : menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum.
• Pemeriksaan alergi (radioallergosorbent test ; RAST).
• Analisa gas darah – pada awalnya pH meningkat, PaCO2 dan PaO2 turun (alkalosis respiratori ringan akibat hiperventilasi ); kemudian penurunan pH, penurunan PaO2 dan peningkatan PaCO2 (asidosis respiratorik)

PENATALAKSANAAN:
Pengalaman bertahun-tahun dengan sejumlah besar wanita hamil yang menggunakan obatobatan asma seperti Ventolin dan Bricanyl telah menunjukkan bahwa obat-obatan ini aman baik bagi sang ibu maupun si bayi.
Obat-obatan lainnya termasuk tablet-tablet Atrovent, Intal Forte, Becotide, Tilade, Intal Forte, Becloforte, Pulmicort, dan Prednisolone juga telah digunakan dan tidak menyebabkan peningkatan angka kelahiran bayi cacat.
Obat-obat golongan Theophyllines (Brondecon, Nuelin dan Theodur) tidak lagi sering digunakan sekarang dalam pengendalian asma, tetapi bila digunakan ketika masa hamil, kadar darah harus diperiksa secara teratur oleh dokter Anda, karena hal tersebut dapat berubah-ubah selama masa hamil.

DAFTAR PUSTAKA:
1. Betz L. Cecily. Buku Saku Keperawatan Pediatri.
2. Corwin, J. Elizabeth. Buku Saku Patofisiologi.
3. Cunningham, F. Gary dkk. 2005. Obstetri Williams. Edisi 21. EGC: Jakarta.
4. http://yuwielueninet.wordpress.com/2009/01/09/kehamilan-penyakit-asma.
5. Dina Dr, Penatalaksanaan Penyakit Alergi.
6. Mansjoer, Arief. Kapita Selekta Kedokteran. 1999. Jakarta: Media Aesculapius.


KONSEP KEPERAWATAN
• PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Riwayat asthma atau alergi dan serangan asthma yang lalu, alergi dan masalah pernapasan
2. Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan.
3. Riwayat psikososial: factor pencetus, stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas, perawatan sebelumnya.
4. Pemeriksaan fisik:
 Pernapasan.
 Napas pendek.
 Wheezing.
 Takipnea Batuk kering.
 Takikardia.
 Kelelahan.
 Ansietas.
 Sulit tidur.
 Intolerans aktifitas.
 Integumen.
 Sianosis.
 Psikososial.
 Kaji status hidrasi
-
• DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa.
2. Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan.
3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI.
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapasan dan menurunnya intake oral.
5. Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan.
6. Perubahan proses keluarga b.d. kondisi kronik.
7. Kurang pengetahuan b.d. proses penyakit dan pengobatan.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan napas b.d. bronkospasme dan udema mukosa.
Tujuan :
- menunjukkan perbaikan pertukaran gas ditandai dengan :
 tidak ada wheezing dan retraksi.
 batuk menurun.
 warna kulit kemerahan
Intervensi:
a. Kaji RR, auskultasi bunyi napas.
b. Beri posisi high fowler atau semi-fowler.
c. Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif.
d. Lakukan suction jika perlu.
e. Lakukan suction jika perlu.
f. Berikan oksigen sesuai program.
g. Monitor peningkatn pengeluaran sputum.
h. Berikan bronchodilator sesuai indikasi.
Rasional :
a. sebagai sumber data adanya perubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan.
b. mengembangkan ekspansi paru.
c. membantu membersihkan mucus dari p[aru dan napas dalam memperbaiki oksigenasi.
d. membantu mengeluarkan secret yang tidak dapat dikeluarkan.
e. membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan ekspansi paru.
f. memperbaiki oksigenasi dan mengurangi sekresi.
g. sebagai indikasi adanya kegagalan pada paru.
h. otot pernapasan menjadi relaks dan steroid mengurangi inflamasi.

Kelelahan b.d. hipoksia dan peningkatan kerja pernapasan.
Tujuan :
- menunjukkan penurunan kelelahan ditandai dengan tidak iritabel, dapat berpartisipasi dan peningkatan kemampuan dalam beraktifitas.
Intervensi :
1. Kaji tanda – tanda hipoksia / hypercapnea ; kelelahan, agitasi, peningkatan HR, peningkatan RR
2. Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup.
3. Berikan istirahat cukup dan tidur 8 – 10 jam tiap malam.
4. Ajarkan teknik manajemen stress.
Rasional :
1. deteksi dini untuk mencegah hipoksia dapat mencegah keletihan lebih lanjut.
2. Istirahat yang cukup dapat menurunkan stress dan meningkatkan kenyamanan.
3. Menurunkan ketakutan dan kecemasan istirahat cukup dan tidur cukup.
4. menurunkan kelelahan dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi.
5. Bronkospasme mungkin disebabkan oleh emosional dan stress

Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. distress GI.
Tujuan :
- menunjukkan penurunan distress GI ditandai dengan: Penurunan nausea dan vomiting,adanya perbaikan nutrisi / intake
Intervensi:
1. Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari dengan makanan yang disukainya.
2. Anjurkan menghindari makanan yang menyebabkan alergi.
Rasional :
1. makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan , lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan. Makanan yang disukai.
2. Dapat menimbulkan serangan akut pada anak yang sensitive.

Resiko kekurangan volume cairan b.d. meningkatnya pernapsan dan menurunnya intake oral.
Tujuan :
- mempertahankan hidrasi yang adekuat ditandai dengan turgor kulit elastis,membrane mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan.
Intervensi:
1. Kaji turgor kulit, monitor urine, output tiap 4 jam.
2. Pertahankan terapi parenteral sesuai indikasi dan monitor kelebihan cairan.
Rasional :
1. untuk mengetahui tingkat hidrasi dan kebutuhan cairannya.
2. anak membutuhkan cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi dan keseimbangan asam basa untuk mencegah syok.

Kecemasan b.d. hospitalisasi dan distress pernapasan.
Tujuan :
- Kecemasan menurun, ditandai dengan anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya
Intervensi:
1. Ajarkan teknik relaksasi; latihan napas dalam, imajinasi terbimbing.
2. Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi.
Rasional :
1. pengalihan perhatian selama episode asma dapat menurunkan ketakutan dan kecemasan.
2. menurunkan rasa takut dan kehilangan control akan dirinya.

Relate Posts



0 comments:

Post a Comment